Keluarga Ini Diduga Korban Bantuan Fiktif Pemkab

Kondisi rumah milik keluarga yang diduga penerima bantuan fiktif. Rumah ini tidak pernah dibangun meski telah mendapatkan bantuan RTLH senilai Rp 17,5 juta dari Dinas Pendidikan Boltim 2018.

SeputarBoltim.com – Apa yang dialami oleh keluarga Aswar Wangkai dan Reni Paneke, warga Dusun II Desa Motongkad Selatan, Kecamatan Motongkad, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim),  terbilang miris.

Keluarga kecil yang tinggal di rumah sangat sederhana ini diduga merupakan korban ‘bantuan fiktif’ dari Pemkab Boltim pada tahun 2018.

Bacaan Lainnya

Kepada wartawan Reni Paneke menceritakan, waktu itu ia dan suaminya didatangi oleh salah satu oknum ASN Boltim dan diajak untuk menghadiri upacara peringatan Hari Guru Nasional di Tutuyan.

Oknum ASN tersebut, kata Reni, memberitahukan bahwa mereka adalah salah satu penerima bantuan Rumah Tinggal Layak Huni (RTLH) dari Dinas Pendidikan.

Dengan suka cita pasangan suami istri ini pun hadir di upacara peringatan Hari Guru tersebut.

“Waktu itu memang Bupati Eyang ada serahkan (simbolis) bantuan ini tapi sudah bertahun-tahun bantuan RTLH tidak pernah dibangun,” ujar Reni Paneke, Sabtu 14 Agustus 2021.

Menurut dia, disaat itu mereka diberikan informasi bahwa bantuan senilai Rp 17,5 Juta tersebut bersumber dari kelebihan gaji guru.

Bahkan, lanjutnya, saat penyerahan bantuan secara simbolis, Wakil Bupati Rusdi Gumalangit sempat berpesan agar bantuan itu dimanfaatkan dengan baik untuk perehaban rumah mereka.

Kertas ini masih disimpan oleh keluarga Aswar Wangkai dan Reni Paneke.

Suami Reni Paneke, Aswar Wangkai, mengungkapkan karena sudah mendapatkan bantuan simbolis ini, mereka tidak lagi mendapat bantuan serupa di tahun-tahun berikutnya.

“Alasan mereka kami sudah terima bantuan, jadi tidak boleh dobel. Makanya kami tidak lagi dapat bantuan baik dari (pemerintah) desa maupun Kabupaten,” terangnya.

Keluarga ini masih menyimpan bukti kertas bertuliskan batuan RTLH dari keluarga besar Dinas Pendidikan senilai Rp 17,5 juta yang diserahkan Bupati Boltim Sehan Landjar pada 2018.

Kertas yang mulai memudar karena sudah berusia lebih dari tiga tahun itu ditempel di pintu rumah.

Pantauan wartawan, beberapa bagian rumah yang dihuni pasangan ini tidak didinding.

Bagian depan rumah beratap seng, sedangkan di bagian belakang diatap dengan anyaman daun lontar.

Bahkan, karena kapasitas rumah sangat kecil, pasangan suami istri yang memiliki tiga anak ini membuat kamar di bagian teras  yang hanya disekat dengan terpal plastik.

Sementara, terkait berita ini, Pihak Dinas Pendidikan Boltim belum terkonfirmasi.

(Red)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *